TUBAN-Desa Mliwang, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur memiliki tradisi yang cukup unik. Yakni, pantangan rumah warga setempat menghadap utara dan barat. Era modern tak membuat tradisi dari pesan leluhur tersebut luntur.
Kampung yang berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat kota kabupaten tersebut tak berbeda dengan kampung pada umumnya.
Perbedaan tersebut baru terlihat kalau dicermati. Ya, tak satu pun rumah menghadap utara dan barat.
Untuk menghindari arah tersebut, sejumlah tempat hunian warga memilih membelakangi jalan. Itu terlihat dari sejumlah rumah yang berada di selatan jalan.
Tradisi tersebut tidak hanya dianut rumah-rumah tradisional berdinding kayu dan bambu. Rumah-rumah modern dan baru berdinding tembok pun mengikutinya.
Syakur, salah satu tokoh warga setempat menceritakan, keyakinan masyarakat setempat untuk tidak membangun rumah menghadap utara dan barat sudah berlangsung cukup lama. Bahkan, sejak dia kecil pun pantangan tersebut sudah berlaku.
‘’Saat masa penjajahan sudah tidak ada rumah yang menghadap ke utara,’’ tutur kakek dua cucu itu.
Syakur menuturkan, alasan rumah warga setempat pantang menghadap utara dan barat karena di utara desa terdapat makam Mbah Sumber Banyu atau lebih dikenal dengan Syayid Abdullah.
Menutur cerita leluhur, rumah yang menghadap utara sama halnya menantang Mbah Sumber Banyu.
‘’Itu sama saja orang muda yang menantang orang yang lebih tua,’’ kata dia menganologikan pemikiran warga setempat yang berbau klenik tersebut.
Syakur menuturkan, pernah sejumlah warga sengaja mencoba membuat rumah menghadap ke utara dan barat.
Setelah rumah tersebut ditempati, hampir tiap malam penghuni rumah didatangi harimau putih.
‘’Tidak sedikit yang sakit-sakitan dan hidupnya susah,’’ tuturnya.
Karena itulah, tak satu pun warga yang berani melanggar pantangan tersebut. Tradisi ini pun ditularkan leluhurnya kepada para anak dan cucunya.
Makam Mbah Syayid Abdullah berada di atas perbukitan. Penziarah terbanyak pada Kamis.
Untuk menuju ke sana, perlu menapaki jalan setapak dan tangga.
Sugianto, tokoh masyarakat lain menambahkan, warga berpendidikan tinggi sekalipun tetap tidak berani mencoba pantangan menghadapkan rumahnya ke utara dan barat.
Dia mengatakan, satu-satunya bangunan yang menghadap utara hanya lembaga pendidikan di desa setempat. (*)