TUBAN-Sebagian budaya warga keturunan Arab yang banyak tinggal di kawasan pemukiman Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur sudah beralkulturasi dengan budaya lokal.
Semua keturunan warga Arab selalu menyertakan nama bani atau keluarga di belakang namanya.
Selain menjadi identitas keturunan, embel-embel nama bani juga untuk membedakan nama-nama yang sama.
Di kampung Arab di lingkungan Kelurahan Kutorejo, sebagian kecil di Kelurahan Sidomulyo, nama Mohammad berjumlah puluhan.
‘’Mohammad yang mana? Ini juga Mohammad. Sana juga iya,’’ ketika Radar Bonang menanyakan nama Mohammad di lingkungan Kelurahan Kutorejo Gang III.
Setelah merunut satu per satu, akhirnya nama yang dicari merujuk pada Mohammad dari bani Agil Ba’agil.
Puluhan nama yang sama berasal dari bani Asegaf, Al Jufri, Al Hadad, Al Mahdali, Al Bunumay, Al Habsi, dan Al Idrus.
Nama bani itu selalu melekat pada setiap kelahiran bayi keturunan Arab.
Mohammad bin Agil Ba’agil mengaku penyebutan bani adalah salah satu tradisi yang masih dipertahankan.
Selain identitas keluarga, terang dia, sebagian warga keturunan Arab di Tuban berpandangan bahwa bani juga menunjukkan status sosial dan ekonomi.
Bapak empat putra itu mengakui, ada sejumlah bani yang menguasai perekonomian. Keluarga dari kalangan mereka sukses menjalankan bisnis perdagangan.
Sebaliknya, ada sejumlah bani yang tingkat ekonominya pas-pasan.
Konon, mereka inilah yang dibantu keluarganya di Timur Tengah dengan kiriman jatah hidup setiap bulan atau periode tertentu.
Mungkin, hanya tradisi penyebutan nama inilah yang masih bertahan bagi warga keturunan Arab di Tuban.
Sementara untuk tradisi lain seperti masalah perkawinan tampaknya mulai pudar.
Mohammad mengakui, untuk urusan perkawinan, sebagian besar warga keturunan Arab masih mempertahankan tradisi menikah dengan sesama rasnya untuk tujuan melestarikan generasi keturunan Arab.
Namun, tidak sedikit yang menikah dengan warga lokal. Termasuk keluarga dia sendiri.
‘’Tentunya, harus sesama muslim. Ini mutlak,’’ kata dia sambil menyebut dua nama saudara misannya yang menikah dengan warga lokal.
Tak hanya tradisi perkawinan yang bisa ditawar. Untuk urusan tempat tinggal, keturunan Arab di Tuban juga sudah membuka diri dengan memiliki rumah dan tempat usaha di luar lingkungan kampung Arab Kutorejo dan Sidomulyo.
Memilih tinggal dan usaha di lingkungan lain bisa jadi karena keberadaan komunitas kampung Arab di lingkungan Kelurahan Kutorejo dan Kelurahan Sidomulyo sudah penuh sesak.
Kondisi inilah yang tidak memungkinkan untuk ditambah pemukiman baru.
Untuk selera makan-minum, tambah Mohammad, warga keturunan Arab sekarang ini hampir tak ada bedanya dengan warga lokal Tuban pada umumnya.
Meski senang dengan menu makanan dan minuman khas Arab, lidah mereka juga doyan semua makanan dan minuman lokal. Seperti pecel, soto, rawon, dan sayur asam.
‘’Saya paling senang kikil sapi,’’ tuturnya.
Untuk aktivitas keagamaan, warga keturunan Arab di Tuban cenderung mengikuti madzab ahli sunnah wal jamaah (aswaja).
Karena itulah, mereka akrab dengan aktivitas haul, tahlil, dan hal-hal yang terkait madzab tersebut.
Nurul Zakiyah, warga lokal yang tinggal di kampung Arab di Kelurahan Kutorejo menambahkan, mungkin karena warga keturunan Arab terlalu lama membaur dengan warga lokal, sejumlah kosa kata yang sering mereka ucapkan banyak diadopsi warga lokal.
Kosa kata itu pun menjadi populer. Seperti ra’se (unik, lucu, heboh, dan aneh), kharim (istri), ya’kul (makan), sebeh (orang tua), toyir (buang air besar), le’ep (judi), dan fulus (uang).
‘’Saya pun sangat fasih mengucapkannya,’’ kata pendidik ini.
Dalam pergaulan pun, sebagian besar warga keturunan Arab tidak mengisolasi diri.
Hanya pada aktivitas dan keperluan tertentu mereka berkelompok.
Salah aktivitas dan organisasi yang membuktikan terjadinya pembauran warga keturunan Arab dan warga lokal adalah majelis dzikir Nurussalam Tuban.
Bahkan, di Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Tuban, Jamilah Bunumay salah satu warga keturunan Arab menjadi ketuanya.
‘’Itu berarti keturunan Arab sudah menjadi bagian dari warga Tuban,’’ kata Sholeh, warga setempat.
Meski mengklaim telah meleburkan diri di semua sektor, tak satu pun keturunan Arab di Tuban yang terjun di dunia politik praktis.
Hal itulah yang memunculkan sebuah pemeo bahwa warga Arab tak suka berpolitik, tapi mahir berdagang. (*)