TUBAN - Tak banyak masyarakat yang mengenal pusara yang dikenal sebagai makam Mbah Ario Tejo di atas bukit Desa Dagangan, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Mbah Ario Tejo merupakan Haryo Tedjo II. Dia adalah adipati Tuban ke-7 yang diangkat pada 1420 Masehi.
Kompleks makam Mbah Ario Tejo berada di area pemakaman umum desa tempat dengan pepohonan besar yang menaungi.
Makam ini berada di selatan pusat pemerintah Tuban. Jaraknya sekitar 40 kilometer (km).
Dari ratusan pusara, hanya makam Mbah Ario Tejo yang dikelilingi cungkup.
Bentuknya menyerupai sebuah rumah dengan penyangga kayu jati. Lantai dan dinding bangunan tersebut dilapisi keramik putih.
Dalam catatan sejarah yang dimiliki KH Abdul Matin, ulama sepuh Tuban, Haryo Tedjo II adalah adipati Tuban ke-7 setelah Raden Haryo Dikoro atau Haryo Tedjo I yang juga merupakan mertua dari Haryo Tedjo II dari istrinya Raden Ayu Aryo Tedjo.
‘’Nama asli Haryo Tedjo II adalah Syekh Abdurrahman yang merupakan putra Syekh Jalalludin,’’ kata Kiai Matin.
Dia mengungkapkan, Haryo Tedjo II merupakan adipati Islam pertama di Tuban.
Haryo Tedjo II diangkat menjadi adipati Tuban oleh mertuanya sendiri, Haryo Dikoro sekitar tahun 1342 Saka atau sekitar tahun 1420 Masehi.
Dia memerintah Tuban selama 41 tahun sebelum digantikan anaknya Raden Arya Wilwatikta.
‘’Pasca memerintah kurang lebih selama 41 tahun, beliau riyadoh atau menyepi ke pegunungan Desa Dagangan, Kecamatan Parengan hingga wafat,’’ tuturnya. (*)
Editor : Amin Fauzie