TUBAN-Jauh sebelum berdiri Kadipaten Tuban, di Bumi Ronggolawe berdiri Kadipaten Gumenggeng. Konon, lokasinya di Dusun Gumeng, Desa Banjaragung, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Dari adipati yang memerintah di Gumenggeng inilah lahir bupati Tuban pertama Dandang Wacono.
Diperkirakan, petilasan Kadipaten Gumenggeng di bawah kaki pegunungan kapur Nglai, Kecamatan Rengel.
Kawasan ini berjarak sekitar 24km dari pusat Kabupaten Tuban. Posisinya arah tenggara.
Belum ada satu pun rujukan sejarah yang mengupas keberadaan Kadipaten Gumenggeng. Keberadaan kadipaten Gumenggeng ini di Dusun Gumeng, Desa Banjaragung, Kecamatan Rengel pun berdasar cerita tutur masyarakat setempat.
Suhartono, tokoh masyarakat desa setempat mengatakan, upaya menggali sejarah Kadipaten Gumenggeng yang punah pernah dilakukan. Narasumbernya sejumlah budayawan dan dalang lokal.
Hartono mengatakan, dalang mendapatkan pakem cerita Babat Tanah Jowo dari leluhurnya. Juga, serat-serat berbahasa Sansekerta kuno.
Dari cerita yang dirunut, terang dia, keberadaan Kadipaten Gumenggeng bermula dari Kerajaan Padjajaran di Ciamis Jawa Barat. Prabu Banjaransari yang memimpin kerajaan tersebut memiliki salah satu putra kesayangan bernama Raden Arya Metahun.
Sang pangeran inilah yang nantinya melahirkan keturunan sebagai bupati Tuban.
Arya Metahun berputra Raden Arya Randu Kuning. Setelah dewasa, Arya Randu Kuning ini mengembara ke timur. Setiba di utara pegunungan Kalakwilis, Kecamatan Jenu, Tuban, dia menghentikan pengembarannya.
Di lokasi inilah Arya Randu Kuning kemudian membuka hutan dan diberi nama Kabupaten Lumajang Tengah.
Di kadipaten ini, dia menjadi adipati dan bergelar Kyai Ageng Gede Lebe Lontong. Dalam buku Tuban Bumi Wali, nama Kadipaten Lumajang memang tertulis.
Hanya, dalam buku tersebut tertulis kadipaten ini adalah tanah ganjaran atau hadiah Raja Majapahit kepada Arya Wiraraja.
Singkat cerita, Kyai Ageng Lebe inilah yang menurunkan putra bernama Raden Arya Bangah yang dikenal sakti dan tampan.
Setelah ayahnya mangkat, Raden Arya Bangah tidak bersedia menggantikan ayahnya menjadi Bupati Lumajang Tengah. Dia bersama pengikutnya memilih mengembara menuju selatan.
Sesampai di kaki gunung Rengel, Raden Arya Bangah beserta pengikutnya menghentikan perjalanan dan kemudian membuka hutan.
Tempat dia babat alas inilah yang kemudian diberi nama Kadipaten Gumenggeng.
Adipati Arya Bangah dikenal tampan. Ketampanan itulah yang konon nitis kepada pria asal Gumeng yang dikenal berparas tampan.
Manri, salah satu tokoh masyarakat Desa Banjaragung mengatakan, semasa kecilnya, bekas pondasi bangunan pendapa dan bangunan lain Kadipaten Gumenggeng masih terlihat jelas.
Bangunan tersebut berbentuk leter L. Pondasi tersebut berbahan batu gunung hitam.
Di tahun sebelum 80-an, di lokasi setempat juga masih banyak ditemukan genting dan batu bata kuno. Juga, cuilan keramik dan barang belah-pecah lainnya. Semuanya kini nyaris tak berbekas.
Satu-dua onggokan batu yang diperkirakan bekas pondasi bangunan kadipaten kini tertutup tanah. Selebihnya bagian atasnya ditanami jati dan pohon pertanian lain.
Manri menuturkan, karena dianggap tidak bermanfaatkan, sebagian pondasi bangunan dibongkar untuk lahan pertanian.
Sebagian bekas puing reruntuhan bangunan Kadipaten Gumenggeng ini konon kabarnya dibawa pulang warga setempat. Peruntukannya untuk pondasi dan dinding rumah. (*)