Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Klenteng Tambakbayan yang Terdampar di Pesisir pada 250 Tahun Silam Itu Sekarang Bernama TITD Kwan Sing Bio Tuban

Dwi Setiyawan • Rabu, 13 Desember 2023 | 16:09 WIB

Bagian depan altar TITD Kwan Sing Bio Tuban yang menghadap Laut Jawa.
Bagian depan altar TITD Kwan Sing Bio Tuban yang menghadap Laut Jawa.


TUBAN-Meski mengalami perluasan hingga lima hektare dengan membangun gedung-gedung baru yang mewah, Tempat Ibadah Tri Darma (TITD) Kwan Sing Bio Tuban, Jawa Timur tetap mempertahankan sebuah bangunan kuno yang bernilai sejarah.

Bangunan kuno tersebut berupa tempat persembahyangan berkerangka dan berdinding kayu jati berukuran sekitar 10x14m.

Lokasi bangunan kuno ini berhadapan persis dengan pintu gerbang utama klenteng yang menghadap Laut Jawa tersebut.

Bangunan yang diperkirakan berusia lebih dari 250 tahun inilah yang menjadi cikal-bakal TITD Kwan Sing Bio Tuban.

Tempat pembakaran kertas sembahyang di barat altar TITD Kwan Sing Bio Tuban.
Tempat pembakaran kertas sembahyang di barat altar TITD Kwan Sing Bio Tuban.

So Tjiauw Gwan, salah satu tokoh klenteng setempat menuturkan, menurut cerita leluhurnya, bangunan persembahyangan tersebut dulunya milik seorang umat Konghuchu di wilayah Kecamatan Tambakboyo, Tuban yang berjarak sekitar 22 km arah barat Kota Tuban.

Karena kampung ini terancam dibumihanguskan tentara Jepang yang berkuasa ketika itu, rumah ini diangkat dan dihanyutkan ke Laut Jawa.

Versi lain, rumah ini dinaikkan pada sebuah perahu besar tanpa awak dan kemudian dilepas ke laut.

Meski berbeda versi, kedua cerita tersebut sama-sama berujung pada ombak yang menyeret bangunan persembahyangan Konghuchu tersebut hingga terdampar di tepi pantai wilayah Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban.

Lokasi terdamparnya rumah kayu tempat peribadatan tersebut persis berada di tempat bangunan TITD Kwan Sing Bio Tuban berdiri.

‘’Dulunya, klenteng ini termasuk daerah pantai,’’ ujar Wawan, panggilan akrabnya.

Bukti kalau klenteng ini dulunya berada di wilayah pantai adalah sering ditemukan kulit kerang maupun cangkang binatang laut lain setiap menggali tanah di area klenteng maupun kawasan sekitar.

Wawan menyampaikan, sejumlah upaya memindahkan bangunan ini tak membuahkan hasil. Termasuk pemilih bangunan persembahyangan tersebut.

Konon, kekuatan besar mempertahankan bangunan persembahyangan tetap berada di tempat tersebut.

Kekuatan inilah yang diyakini umat Konghuchu dari kiem sien atau patung dewa Kwan Sing Tee Koen atau Kongco Kwan Kong di dalam bangunan kayu tersebut.

Karena pemilik tak mampu memindahkan, kata mantan pengurus klenteng setempat itu, bangunan persembahyangan tersebut akhirnya dipertahankan di tempat terdampar hingga sekarang.

Karena berasal dari Kecamatan Tambakboyo, kata Wawan, tempat sembahyang di Jalan RE Martadina tersebut dulunya lebih dikenal dengan nama klenteng Tambakbayan.

Kelak bangunan persembahyangan tersebut berganti nama menjadi TITD Kwan Sing Bio Tuban.

Dalam perkembangannya, terang Wawan, karena diperlukan perluasan, bangunan persembahyangan kayu tersebut tetap dipertahankan dan hanya ditambah dengan bangunan semiterbuka baru berbahan kayu.

Di bangunan persembahyangan kuno inilah bersemayam patung Kwan Sing Tee Koen dan  panji-panji kebesaran dewa ini. Sementara bangunan tambahan di depannya ditempati altar dan piranti sembahyang lainnya.

Untuk perawatan bangunan kuno ini, setiap tahun dinding dan kerangka kayunya diperbarui catnya yang didominasi warna merah dan kuning. Sementara fisiknya tetap dibiarkan seperti semula.

Karena sama sekali tidak tersentuh renovasi, lantai bangunan ini dibiarkan dari tegel kelabu yang kumal dan gupil di sana-sini.

Wawan mengatakan, rencana merenovasi bangunan kuno tersebut pernah berkali-kali dilakukan pengurus maupun umat klenteng yang bermaksud menyumbang.

Namun, setiap kali dimintakan persetujuan kepada Kwan Sing Tee Koen melalui puak pue atau prosesi ritual dengan menggunakan sepasang kayu puak, selalu tak membuahkan hasil. Dewa utama klenteng ini menolak dan meminta bangunan tersebut tetap dipertahankan.

Karena sama sekali tidak tersentuh renovasi, tempat sembahyang ini terlihat njomplang dengan bangunan-bangunan baru yang mengelilingi.

‘’Mungkin, ini yang menjadikan bangunan persembahyangan tersebut bertuah,’’ ujarnya. (ds)

MOU: Setiyarta (empat dari kanan) dan Husnul Maram (empat dari kiri) menunjukkan Nota Kerja Sama terkait layanan perbankan antara BRI RO Surabaya dan Malang bersama Kanwil Kemenag Jatim.
MOU: Setiyarta (empat dari kanan) dan Husnul Maram (empat dari kiri) menunjukkan Nota Kerja Sama terkait layanan perbankan antara BRI RO Surabaya dan Malang bersama Kanwil Kemenag Jatim.
Editor : Amin Fauzie
#bangunan kuno #Klenteng Tambakbayan #titd #Kwan Sing Bio #tempat ibadah tri darma #tuban