TUBAN-Batik tulis kutorejo diambang kepunahan. Sampai sekarang, pengrajin yang masih bertahan menggeluti salah satu warisan budaya yang hanya diproduksi warga Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur tersebut tinggal dua pembatik. Mereka adalah Sofiah dan Sri.
Setiap mendapat pesanan batik tulis, Sofiah kerap duduk hingga larut malam menghadap kain bakalan yang telah dipola pada sebuah gawangan.
Sambil memperhatikan setiap lekuk batik, perempuan 70 tahun itu menyaput pola kecil batik yang masih kosong dengan canting berisi malam yang dipegang tangan kanannya.
Usai menyaput, tangannya mencelupkan canting pada wajan kecil berisi malam cair yang ditumpangkan pada kompor kecil di kanannya.
Pekerjaan cecekan atau memberi warna pada bagian-bagian kecil ini membutuhkan ketelitian. Karena itu, sang pembatik dituntut konsentrasi tinggi.
Membatik sudah digeluti perempuan yang tinggal di Kutorejo XII/175 ini sejak usia 20 tahun.
Terjunnya Sofiah sebagai pengrajin batik tulis meneruskan jejak Habsah, ibunya yang juga pembatik. Begitu juga Makukup (nenek) dan Tuminah (buyut) yang pembatik.
Sekitar 20 tahun lalu, nama-nama pembatik seperti Mukasanah, Sri Dolah, Barkah, Muhimah, dan Azis masih eksis.
Mereka yang mengikuti jejak leluhurnya yang juga pembatik tersebut kini telah meninggal. Selebihnya tak kuat membatik.
Bahkan, di era 90-an, jumlah pembatik tulis kutorejo masih puluhan.
Pada era tersebut batik ini dikenal luas dan punya nama besar. Banyak masyarakat lokal maupun luar daerah yang meminatinya. Itu yang menjadikan batik ini diproduksi dalam jumlah besar.
Ketenarannya tak kalah dengan warisan budaya khas Tuban lainnya. Seperti batik gedog, batik karang, dan batik sumurgung.
Seiring perjalanan waktu, satu per satu pembatik tulis kutorejo ‘’ditenggelamkan’’ waktu.
Sebagian pembatik yang meninggal dunia maupun berusia uzur tidak dilanjutkan penerusnya. Selebihnya enggan membatik karena sudah tidak banyak peminatnya.
Alasan ini beralasan. Batik tulis kutorejo hampir tak ditemukan terpajang di butik maupun toko fashion Tuban.
Batik yang memenuhi etalase toko di Bumi Ronggolawe ini justru didominasi batik gedog. Selebihnya batik karang dan batik sumurgung.
Entah, apa yang membuat batik yang mengabadikan nama kelurahan di kawasan makam wali Allah, Sunan Bonang Tuban tersebut tenggelam. Padahal, motif dan warnanya tak kalah dengan batik lain.
Bahkan, batik kutorejo memiliki kekhasan tiga warna, biru tua, coklat, dan putih tersebut, tidak dimiliki batik lain.
Karena tidak banyak permintaan, Sofiah hanya memproduksi berdasar pesanan. Rata-rata setiap bulan, dia mendapat pesanan dua lembar.
Untuk memproduksi selembar batik tulis kutorejo dibutuhkan waktu kurang lebih satu minggu. Lamanya waktu tersebut karena batik ini dikerjakan secara tradisional.
Pola batik dikerjakan dengan tulisan tangan. Pewarnaannya pun secara tradisional juga. Hasil batik Sofiah kini rutin dibeli kolektor. Selebihnya dibeli untuk dipasarkan ke Bali. Harganya hanya Rp 750 ribu hingga Rp 850 ribu per lembar.
Sekali waktu, ibu dua anak dan empat cucu itu menerima pesanan dari warga.
Membatik tak hanya memberi kepuasan batin Sofiah. Dengan menggeluti usaha warisan leluhurnya tersebut, dia juga mampu menghidupi keluarganya. (*)