Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Gelut Pathol, Tradisi Pantura Tuban yang Memudar. Banyak Generasi Muda yang Tak Mengenal

Dwi Setiyawan • Senin, 11 Desember 2023 | 15:00 WIB

Gelut Pathol yang digelar di Pantai Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban.
Gelut Pathol yang digelar di Pantai Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban.


TUBAN-Setelah era 70-an, gelut pathol berangsung-angsur menghilang dari tradisi sedekah laut di pantai utara (pantura) Tuban.

Faisol Rozi, termasuk salah satu tokoh nelayan yang masih merekam kejayaan tradisi nelayan di pantura Tuban tersebut.

Setiap momen sedekah laut di tempat pelelangan ikan (TPI) barat di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, bayangan tokoh nelayan 66 tahun tersebut selalu teringat pada gelut pathol.

Di masa kecilnya, tokoh nelayan ini tak pernah absen menonton pertunjukan tersebut. Lokasinya di pantai pemukiman kampung nelayan di Karangsari.

Faisol masih ingat persis, sebelum pertandingan dimulai, didirikan ring. Tiang ringnya dari watang atau galah untuk mendorong perahu ketika melaut.

Sementara tali ringnya takal atau tampar besar yang dipakai menarik jala. Sebagai hiasan, di atas takal disampirkan rumbai-rumbai rumpon.

Pertunjukan ini selalu menyedot ratusan penonton. Mereka pun bersorak sorai sepanjang perhelatan berlangsung.

Faisol menuturkan, sebelum era 70-an, gelut pathol menjadi rangkaian tradisi dari sedekah laut. Tradisi lain adalah pertunjukan langen tayub.

Kini, langen tayub juga sudah tidak digelar. Sebagai gantinya, panitia sedekah laut mendatangkan  pertunjukan orkes melayu atau dangdut.

Ketika gelut pathol masih eksis, nama-nama seperti Astro Urip, Madram, dan Wadirun begitu dikenal sebagai pemain gelut pathol yang andal di era 60-an.

Mereka tidak hanya berotot dan perkasa, namun juga memiliki strategi menjatuhkan lawan.

Sementara nama botoh, semacam manajer -- yang dikenal di masa itu adalah Somo Tasrip. Seluruhnya kini berusia sekitar 70-an tahun.

Selain menjadi bagian dari tradisi sedekah laut, di era sebelum 70-an, gelut pathol juga menjadi event setiap peringatan kemerdekaan 17 Agustus, hari besar nasional, dan pertunjukan pasar malam.

‘’Kini, jangankan digelar, anak-anak nelayan pun banyak yang tidak tahu,’’ tandas Faisol.

‘’Saya nggak tahu,’’ kata Solikin, 14, di TPI barat Karangsari. Tiga temannya yang ditanya juga menggelengkan kepala. (*)

TUMBUH: Satramin membersihkan rumput di sekitar tanaman terong miliknya, di Jalan Raya Nyalaran, Kelurahan Kowel, Pamekasan. (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)
TUMBUH: Satramin membersihkan rumput di sekitar tanaman terong miliknya, di Jalan Raya Nyalaran, Kelurahan Kowel, Pamekasan. (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)
BERKUALITAS: Tanaman terong milik Satramin yang siap panen. (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)
BERKUALITAS: Tanaman terong milik Satramin yang siap panen. (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Amin Fauzie
#pantura #tradisi #gulat #Gelut Pathol #sedekah laut #tuban