TUBAN-Tuban tak bisa dilepaskan dari sejarah pembuatan keris pusaka di zaman Kerajaan Majapahit. Bukti petilasan tersebut berada di bawah pegunungan Ngroto, Kecamatan Grabagan.
Di kawasan pegunungan inilah konon Empu Supo, salah satu pembuat keris di zaman Kerajaan Majapahit melahirkan sejumlah pusaka mahakaryanya.
Menurut cerita tutur turun-temurun di desa setempat, keris tersebut dibuat Empu Supo di atas tumpukan batu yang kalau disulut api, bakal menyala dan batunya membara.
Tumpukan batu yang selalu mengeluarkan gas belerang yang menyengat inilah dikenal sebagai petilasan Empu Supo.
Api alam yang keluar dari bongkahan batu inilah yang konon dijadikan tungku atau perapian sang empu untuk membuat keris.
Selain sumber api abadi, petilasan Empu Supo dikelilingi dengan sejumlah bukti pendukung.
Salah satunya, dua kolam kotak yang lokasinya hanya berjarak sekitar 200meter (m).
Kolam berukuran 1,5x6m dipercaya sebagai tempat bersuci dan kolam berukuran 1x1m untuk mencelupkan keris yang baru dibakar. Dua kolam tersebut dibiarkan apa adanya.
Tak ada satu pun masyarakat sekitar dan pengunjung yang berani memanfaatkan air maupun menceburinya.
Di lereng perbukitan yang hanya berjarak sekitar 7m dari dua kolam ini terdapat dua batu prasasti yang ditulis dengan bahasa Sansekerta.
Tarmuji, salah satu tokoh masyarakat setempat mengungkapkan, dari cerita turun-temulur leluhurnya, sumber api abadi di desanya merupakan jejak Empu Supo.
‘’Tempat ini dikeramatkan. Setiap Suro, petilasan ini dipakai mencuci semua jenis pusaka,’’ tuturnya.
Apakah Empu Supo yang petilasan di Dermawuharjo tersebut sama dengan Empu Supa Madrangki, empu termashur dengan karya besarnya, keris Kyai Nagasasra pada abad XV? Tidak ada satu pun rujukan sejarah yang menyebut.
Sejarah Empu Supo sendiri tidak pernah ada rujukan sejarah yang membukukan.
Dalam Wikipedia Sejarah, Empu Supa adalah suami dari Dewi Rasawulan, adik Sunan Kalijaga.
Selain Kyai Nagasasra, mahakarya lainnya adalah keris Kyai Sengkelat dan Kyai Carubuk.
Sebelum menikah dengan Dewi Rasawulan, Mpu Supa beragama Hindu. Dia kemudian memeluk Islam setelah berdialog dengan Sunan Kalijaga. (*)