Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Pendapa Krido Manunggal Tuban Didirikan Insinyur Prancis pada 1821. Menyimpan Sejumlah Keramat

Dwi Setiyawan • Jumat, 8 Desember 2023 | 03:33 WIB
Pendapa Krido Manunggal Tuban
Pendapa Krido Manunggal Tuban

TUBAN-Pendapa Krido Manunggal Tuban adalah salah satu situs sejarah. Rumah dinas bupati Tuban tersebut dibangun seiring pindahnya pusat kantor Kadipaten Tuban pertama yang berlokasi di Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding.

Meski beberapa kali bangunannya direnovasi, ada sejumlah titik yang tetap dipertahankan.

Dalam buku Mengenang 700 Tahoen Toeban karya R. Soeparmo, bangunan pendapa didirikan insinyur bangunan dari Prancis pada 1821 pada masa kepemimpinan Bupati Citrosomo I.

Buku tersebut tidak hanya mengupas nilai sejarah bangunan ini. Namun, juga membeberakan sejumlah tempat yang dikeramatkan.

Salah satunya, sebuah kamar yang selama ini tak pernah ditempati. Kamar tersebut persisnya di timur lobi pendapa.

Konon, kamar tersebut dipakai semedi bupati Citrosomo.

Semasa bupati Hindarto, kamar yang dimaksud dipakai menyimpan senjata pusaka.

Suwoto, mantan ajudan bupati Hindarto mengatakan, di kamar inilah sejumlah senjata yang dikeramatkan disimpan. Antara lain, tumbak dan keris.

Semasa bupati Haeny Relawati Rini Widyastuti, kamar ini dikosongkan. Mungkin, karena dikeramatkan itulah lantai kamar ini tetap dibiarkan apa adanya tanpa diperkeras dengan keramik atau ubin.

Untuk menutup lantai tanahnya, di atasnya dipasang karpet.

Semasa bupati Fathul Huda pada 2011, di ruang ini tak ada satu pun senjata pusaka yang terpajang.

Soekotjo, budayawan Tuban mengatakan, kamar di pendapa tersebut dikeramatkan karena memiliki aura yang tidak cocok untuk hal-hal tertentu.

Dia mengatakan, kamar tersebut dulunya dipakai bupati Citrosomo dan penerusnya untuk bertemu dengan istri yang berbangsa jin. Pada masa kerajaan, sudah galibnya raja-raja beristri makhluk halus.

‘’Seperti keturunan Sultan Hamangkubuwono yang memperistri Ratu Pantai Selatan,’’ tuturnya.

Karena dikeramatkan itulah, setiap bupati memberikan perlakuan berbeda terhadap kamar ini. Konon, kabarnya lumpuhnya mendadak salah satu bupati di Tuban di era 1990-an dikaitkan dengan dikeprasnya akar beringin yang menerobos dari lantai kamar ini.

Tempat lain yang dikeramatkan dan dikaitkan dengan sejarah adalah dua cungkup makam yang berada di timur halaman pendapa.

Cungkup tersebut konon adalah makam dua pengawal bupati yang tewas dalam pertempuran.

Tak jauh dari cungkup ini ada bekas lantai bangunan kuno yang dalam cerita tutur adalah gedokan atau tempat kandang kuda Ronggolawe, bupati pertama Tuban.

Di dekat gedokan ini juga ada batu nisan berbentuk pipih yang dianggap sebagai makam kuda.

Salah satu arkeolog dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan yang datang ke Tuban ketika penemuan patung Ganesha di kompleks kantor Pemkab Tuban pada 1999 memerkirakan kompleks bangunan pemkab dan pendapa dulunya adalah sebuah candi.

Estimasi tersebut tidak hanya didukung dengan patung Ganesha yang ditemukan.

Namun, juga didukung fakta sejarah dengan ditemukannya batu berupa linggo dan yoni di barat gedung pemkab setempat.

Tempat keberadaan linggo dan yoni inilah yang sekarang didirikan Museum Kambang Putih Tuban.

Masih menurut arkeolog tersebut, di kompleks pendapa, ada sebuah kolam pemandian untuk menyucikan diri yang merupakan bagian dari kelengkapan candi.

Kolam tersebut tak ubahnya bangunan kolam pada umumnya. Hanya, bangunan yang tersusun terbuat dari batu kuno.Tak jelas apakah kolam dimaksud masih ada.

Sementara satu kolam pemandian lain berada di luar kompleks bangunan pendopo.

Tempat dimaksud diperkirakan berada di Kelurahan Sendangharjo, Kecamatan Tuban.

Masyarakat setempat menyebutnya dengan Sendang Guwah. Lokasi sendang ini di luar pintu masuk gua. (*)

Photo
Photo
Editor : Amin Fauzie
#Desa Prunggahan Kulon Kecamatan Semanding #Pendapa Krido Manunggal #rumah dinas bupati #senjata pusaka #situs sejarah #tuban